Hati hati jika ingin transaksi jual beli Online di tahun 2020! - Rufidea | Sharing and Tips

Hati hati jika ingin transaksi jual beli Online di tahun 2020!


Pada kesempatan kali ini Rufidea menyajikan tulisan berbeda dan Out of Topic. Saya akan bercerita tentang pengalaman saya transaksi online tanpa Rekening Bersama seperti Tokopedia, Bukalapak, Shopee, dll. Hal tersebut sangat fatal seperti yang saya tahu sekarang transaksi via Rekening Bersama pun sudah banyak terjadi penipuan di tahun 2020 ini. Jadi tetap waspada ya!

FYI, saya sudah gemar belanja online sejak SMA sekitar tahun 2012, namun tetap saya bertransaksi lewat Rekber sehingga aman dan tidak pernah terjadi hal yang tidak diinginkan. Pada saat tulisan ini dibuat, hari ini adalah H+3 setelah peristiwa penipuan yang saya alami untuk pertama kali.

Sebelumnya juga saya berharap kepada para pembaca, jika mengenal salah satu dari pelaku penipuan di bawah, tolong hubungi saya via Contact Me atau langsung berkomentar. Saya juga berharap bantuan dari pembaca untuk share berita ini, karena saya yakin media sosial itu sangat powerfull sehingga tidak muncul korban penipuan seperti saya lagi. Satu kali share dari kalian akan sangat membantu, terima kasih.

Jika pelaku sudah ditemukan pasti akan saya update postingan ini, dan jika pembaca adalah orang yang datang lama setelah postingan ini diterbitkan silahkan baca-baca saja sebagai pengetahuan akan kejahatan online.

Saya akan ceritakan kronologinya dengan pelaku berjumlah 2 orang, yaitu sebagai penjual yang berasal dari Banjaran, Lamongan dan sebagai seorang pegawai JNE Boyolali.

Langsung saja saya ceritakan kronologinya sebagai berikut:

Iklan si pelaku
Pada tanggal 23 Maret 2020, saya melihat iklan HP di sebuah grup jual beli facebook menawarkan Iphone Xr. Karena penasaran berapa harganya dengan iseng saya hubungi pelaku via WA.

Awalnya saya tanya harga Iphone Xr tersebut dan ternyata berharga 6 juta saja. Setelah banyak perbincangan dia jual mentok di 5 juta, karena memang butuh sekali uang untuk membayar kredit motor besoknya. Saya yang tadinya hanya iseng dan tidak berniat membeli malah jadi tergiur dengan harganya dan juga saya ada niat membantu agar segera melunasi kreditnya.

Kemudian saya tawar untuk bayar 3 juta dulu sisanya saya lunasi akhir minggu. Karena pelaku mengaku lokasinya di Lamongan sedangkan saya di Boyolali, singkat cerita saya ditelfon untuk membahas bagaimana kelanjutannya, metode transaksinya bagaimana supaya sama-sama enak. Akhirnya sepakat bahwa pelaku mengirim HP di JNE dan ketika sudah dikirim saya langsung transfer ke rekeningnya. Dan saat perbincangan di WA pun si pelaku mengirim foto HP dan kelengkapannya, KTP-nya bahkan mengirim video selfie dengan KTP dan HP dipegangnya.

KTP pelaku (belum tahu asli atau palsu)



Kemudian hal yang janggal bagi saya adalah si pelaku benar-benar ingin segera dilakukan transaksinya, waktu itu pukul 19.20 WIB tiba-tiba si pelaku mengirim video sedang berada di motor dan otw ke JNE. Saya tetap belum bisa karena saya pulang jam 8 malam.

Obrolan dengan penipu yang sangat terpercaya
Sekitar pukul 20.12 WIB si pelaku telah sampai di JNE, saya minta rekam video ketika proses packing oleh pihak JNE lalu kirim ke saya dan dia mengirim 3 video proses packing untuk meyakinkan saya.


Setelah dia mengirim video tersebut, saya diminta transfer uangnya. Tetapi saya minta kirim resinya dulu baru saya transfer, namun dia meminta bebarengan akhirnya saya transfer ke rekeningnya, yaitu Bank Permata dan sepertinya ini adalah nomor virtual account. Ketika itu saya tidak tahu menahu tentang nomor rekening tsb. Sampe saat ini saya belum dapat menyimpulkan bahwa mas JNE di video di atas terlibat atau tidak, namun menurut saya mereka komplotan.

No rekening yang dikirim pelaku

Bukti transfer dari saya ke pelaku
Setelah itu si pelaku mengirim nomor resi palsu ke saya, sekilas tidak terlihat bahwa itu hasil editan jadi saya betul-betul percaya sampai tahap ini. Setelah saya pulang, saya coba cek resi yang telah dikirim pelaku namun tidak terdeteksi di sistem JNE. Kemudian saya tanya kepada pelaku dan memang seperti biasanya kadang sistem JNE baru bisa membaca resi setelah 1x24 jam begitu juga ketika saya mencari di internet ternyata memang kebanyakan begitu, dan di sini saya sudah agak curiga ditambah percakapan di WA yang saya cermati lagi memang banyak yang tidak beres. 

Resi palsu (edited)
Keesokan harinya, 24 Maret 2020 resi masih belum dapat dilacak lalu saya mengirim pesan WA ke pelaku pukul 09.20 WIB. WA pelaku tidak aktif sejak tadi malam, saya akhirnya merasa tertipu sehingga saya teliti lagi resinya melalui aplikasi My JNE di HP, kemudian saya scan barcode resinya dan ternyata muncul data transaksi pengiriman atas nama Ali Iskandar pada bulan November 2019 lalu.



Saya lihat kembali lebih detail dan ternyata memang foto resi yang dia kirim semalam adalah editan. Kemudian saya juga teliti video yang dia kirim semalam ketika dia berada di depan kantor J&T dan JNE. Pada video terlihat nomor telefon pada sebuah ruko diawali dengan nomor 031. Setelah saya cari info di internet nomor telfon tersebut merupakan nomor telefon daerah Surabaya. Sedangkan pelaku mengaku sedang berada di Lamongan, tempat asalnya.


Tepat pukul 11.53 WIB pelaku aktif kembali dan membalas WA saya dan beralasan dia sedang sibuk membantu pindahan rumah temannya sehingga slow respon. Saya bertanya lokasinya sekarang di mana dan dia jawab di Lamongan. Setiap saya tekankan untuk alamat lengkapnya dia ngeles dan malah mengirim location  via WA.

lokasi yang dikirim pelaku
Dia bilang bahwa dia mengirim dengan JNE YES (satu hari sampai) dengan status ‘jual beli’ dan dia bilang bahwa sore nanti dia akan mengecek kembali ke JNE agar resinya terbaca. Di sini entah kenapa saya malah kembali percaya ke orang tersebut dan menganggap hasil scan barcode tadi mungkin juga error sistem.


Nb: saya juga tidak tahu menahu tentang pengiriman di JNE dengan status 'jual beli' ini, karena saya sudah lama tidak menggunakan jasa JNE jadi saya kira ini memang metode baru.

Pukul 16.22 WIB saya tanya kembali apakah sudah komplain ke JNE atau belum, dan tidak ada respon sama sekali. Kemudian sekitar pukul 16.51 WIB ada pihak JNE menelfon saya, dia bilang bahwa paketnya sudah sampai di JNE Boyolali. Kemudian karena ini statusnya adalah barang ‘jual beli’ saya harus mengirimkan bukti pelunasannya ke pihak JNE sehingga barang dapat diteruskan ke saya. Saya diberi waktu 30 menit karena mobil akan berangkat mengantar barang, dan jika saya tidak mengirim bukti pelunasan barangnya, maka barang akan dikembalikan ke penjual yaitu ke Lamongan.

Isi pesan saya dengan pihak yang mengaku JNE. Sudah jelas bahwa foto barang tersebut berada di tempat yang sama ketika si penjual mengirim barang bukan di Boyolali. Dan foto kantor JNE yang dia kirim saya yakin itu dari Google.

Note: Sepengalaman saya jika ada pihak kurir menelfon itu biasanya hanya menanyakan alamat pastinya, ancer-ancer alamat. Karena pengiriman ini statusnya adalah 'jual beli' dan kebetulan saya tidak tahu serta saya dikejar waktu untuk melunasi, saya benar-benar tidak bisa berfikir dengan baik saat itu sehingga spontan saya langsung kirim uang sisanya dan totalnya menjadi 5 juta ke pelaku.
Tepat setelah saya kirim 2 juta ke pelaku, saya baru yakin sekali saya tertipu dan saya langsung lapor ke Polsek Klego pukul 18.00 WIB dengan kondisi saya masih chatting dengan pelaku, karena pihak JNE masih meminta biaya asuransi sebesar 3,8 juta untuk jaminan pengiriman. Setelah itu saya direkomendasikan menuju ke Polres Boyolali untuk langsung menceritakan kronologinya.

Bukti transfer kedua untuk pelunasan
Selama saya melapor saya masih melakukan percakapan dengan 2 pelaku tadi. Resi masih belum dapat dilacak dan barang belum dikirim karena memang harus transfer uang asuransi 3,8 juta lagi ke pihak JNE, baru barang bisa dikirim. Setelah itu pihak JNE tidak saya respon lagi dan saya hanya komunikasi dengan pelaku 1 (penjual) hingga keesokan harinya.

Saya bongkar satu-persatu hal-hal yang membuktikan bahwa dia menipu karena dia tidak mau mengakuinya malah lama-lama menuduh saya yang tidak percaya. Setelah banyak bukti yang saya kasih ke dia, dia tetap tidak mau mengaku dan akhirnya nomor saya diblokir oleh pelaku 1 pada pagi hari Rabu, 25 Maret 2020.

Kemudian besoknya baru akun FB pelaku di hapus, tetapi di sini yang menarik adalah saya menemukan akun FB dengan nama yang sama yaitu Nadir Lasvegaz dan itu adalah akun baru juga (2020). Penampakannya seperti ini:


Di bawah ini saya lampirkan beberapa foto dan bukti pelengkap, sekiranya pembaca di sini kenal, melihat, atau mengerti orang tersebut tolong beritahu saya atau langsung lapor ke pihak polisi setempat agar dapat segera diadili sehingga tidak menambah jumlah korban penipuan lainnya. Terima kasih.

pelaku 1 - penjual
akun FB pelaku
WhatsApp pelaku 1

Jadi, poin pelajaran penting yang saya dapat adalah:
  1. Jangan sekali-kali melakukan transaksi langsung, gunakan Rekening Bersama lebih aman.
  2. Indikasi bahwa itu penipuan adalah harga barang sangat murah jauh di bawah harga pasar, pembeli diburu-buru waktu sehingga pembeli tidak dapat berfikir dengan tenang.
Sekian tulisan yang dapat saya bagikan ke pembaca semua, mohon maaf apabila ada salah tulis atau ada hal yang menyinggung pembaca semua. Semoga hal yang saya alami tidak terjadi kepada pembaca sekalian, dan semoga dapat menjadi pembelajaran untuk kita semua. 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Hati hati jika ingin transaksi jual beli Online di tahun 2020!"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel